SENDOK SAYUR YANG BIKIN WANITA SUBUR

Sumber: 
RINGKASAN MAJALAH INTISARI FEBRUARI 2008
Penulis: 
M. Sholekhudin

Retno, karyawati sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, pernah merasakan manfaat lain dari sendok-sendok dapur ini. Bukan untuk membuat sayur asem atau lodeh. Tapi untuk mengatasi gangguan kesehatan yang ia alami.

Awal tahun 2003, ia menikah. Pertengahan tahun itu, dari pemeriksaan dokter, diketahui ternyata ia menderita endometriosis. Di dalam indung telurnya ditemukan kista 8 cm. Oleh dokter, ia disarankan menjalani operasi. Tak ada pilihan lain, saat itu ia pun menjalani operasi laparoskopi pengangkatan kista. Setelah kistanya dioperasi, dokternya “mengharuskan” ia dan suaminya untuk segera merencanakan kehamilan. Sebab, kalau tidak segera hamil, dikhawatirkan kistanya akan tumbuh lagi.

Tapi ditunggu-ditunggu, ternyata ia tidak hamil-hamil. Karena curiga masalahnya ada di pihak laki-laki, maka suaminya pun melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter andrologi. Hasilnya ternyata sperma suaminya oke-oke saja.

Dari pemeriksaan selanjutnya, disimpulkan bahwa masalah ada di pihak istri. Benar saja, beberapa bulan sesudah itu, Retno kembali merasakan nyeri di perut bagian kiri. Setelah diperiksa, ternyata kistanya tumbuh lagi di tempat yang sama. Kali ini bahkan tiga kista sekaligus.

Bermacam-macam ikhtiar pengobatan sempat ia coba. Sampai berkali-kali pindah dokter. “Kami bukan hanya mencari second opinion, tetapi sampai sixth, seventh opinion,” katanya. Bukan itu saja, ia juga mencoba berbagai pengobatan alternatif. Tapi hasilnya tak ada yang memuaskan.
Karena adanya kista ini, siklus menstruasi menjadi kacau. Dalam satu bulan, kadang ia bisa haid dua kali. Akibatnya, jadwal minum obat dari dokter juga ikut kacau karena mengikuti siklus menstruasinya yang amburadul. Pada saat yang sama, ia juga menderita gangguan saraf tulang belakang bagian pinggul. Jika hendak memakai celana, ia merasakan nyeri di daerah itu.

Kista hilang, hamil datang
Selama hampir tiga tahun, ia mencoba berobat ke banyak dokter. Aneka jenis pengobatan alternatif juga sudah ia coba. Tapi tak ada yang berhasil. Kista tidak hilang, gangguan tulang belakang tak berkurang.

Atas saran dari ibunya, ia mencoba datang ke klinik pengobatan yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Ia datang dengan niat mengatasi masalah tulang belakangnya. Untuk sementara, masalah kista ia lupakan. Di klinik itu, ia menjalani terapi stimulasi saraf yang namanya cukup asing, Neuro Tendo Stimulasi (NTS).

Metode mirip akupresur tapi stimulasi titik-titik saraf dilakukan dengan alat-alat dapur. Ada sendok makan, sendok sayur, centong (sendok nasi), sampai sendok es krim. Selain sendok, stimulasi juga dilakukan dengan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau.

Sekali, dua, tiga, empat kali menjalani terapi, ia merasa tak ada kemajuan berarti. Tiap minggu ia dua kali “disendoki”. Saat itu ia sempat meragukan efektivitas terapi. Tapi ia tetap meneruskannya karena menganggap terapi itu relatif aman sebab ia tidak perlu minum obat ini-itu. Apalagi dokternya juga mengizinkan ia melanjutkan terapi sendok tersebut. Setelah beberapa kali lagi disendoki, ia baru merasakan perbedaan berarti. Gangguan tulang belakangnya mulai hilang, tubuhnya juga terasa lebih sehat. Di luar dugaan, ketika memeriksakan diri ke dokter, ia baru sadar bahwa kistanya juga mengecil sampai tidak terdeteksi lagi. Kejutan tidak hanya sampai di situ. Beberapa bulan kemudian, di awal 2007, menstruasinya berhenti. Setelah dicek, ternyata ia baru saja memperoleh hadiah yang selama ini ia tunggu-tunggu bersama suaminya. Setelah menanti selama empat tahun lebih, akhirnya ia positif hamil.

Saat awal menjalani terapi sendok sayur, Retno hanya berniat membetulkan saraf tulang belakang di bagian pinggulnya yang bermasalah. Kista adalah urusan nomor dua. Ia menganggap kedua gangguan ini sebagai dua hal yang berbeda, yang tidak punya hubungan satu sama lain.
Tapi berlawanan dengan dugaannya, Haryanto justru berpendapat sebaliknya. Menurutnya, kedua masalah itu saling berhubungan. Masalah kista di organ reproduksinya itu disebabkan oleh gangguan saraf yang ia derita di tulang pinggulnya. Karena itu, ketika masalah sarafnya berhasil di atasi, kistanya pun ikut hilang.

Pengobatan ala kungfu
Konsep dasar terapi yang dilakukan oleh Haryanto - di klinik, ia biasa dipanggil dengan sebutan Suhu Haryanto - sebetulnya bukan terapi yang aneh dan sama sekali baru. Haryanto mengaku mengembangkan terapi ini dari keahliannya bermain kungfu. Saat latihan kungfu, ia biasa mengobati murid-muridnya yang mengalami cedera dengan pijatan di titik-titik tertentu. Biasanya pengobatan hanya dilakukan dengan jari tangan. Belakangan, ia mengembangkan metode ini, tidak hanya menggunakan jari tangan, tapi juga benda-benda lain seperti ranting kayu, tusuk gigi, sendok, anak kunci, dan sebangsanya.

Pengobatan ala kungfu ini ia gabungkan dengan konsep tentang fungsi tulang belakang. Baik dalam tinjauan kedokteran modern maupun pengobatan tradisional Cina, tulang belakang merupakan organ yang sangat penting. Selain menjadi penyangga tubuh, tulang belakang juga menjadi kanal yang melindungi jaringan saraf. Jaringan saraf ini menjadi penghubung antara otak dan organ-organ tubuh lainya. Tak terkecuali organ reproduksi. Jika terjadi gangguan di tulang belakang, kabel-kabel saraf itu pun bisa terganggu. Akibatnya, kerja organ yang disarafi juga bisa bermasalah.

Dalam konsep NTS, organ-organ reproduksi dikendalikan oleh jaringan saraf yang kabel utamanya melewati tulang belakang bagian bawah. Jika terjadi gangguan di tempat ini, organ-organ reproduksi pun bisa terganggu. Pada kasus Retno, gangguan itu terjadi pada tulang belakang bagian pinggul dan pinggang.

Tidak semua gangguan organ reproduksi disebabkan oleh gangguan saraf di tempat ini. Bisa saja disebabkan oleh faktor lain. Mungkin saja penyebabnya gangguan hormonal yang tidak berkaitan dengan tulang belakang. Namun, kata Haryanto, gangguan di tempai ini sering terjadi dan kerap diabaikan karena dianggap tidak penting.

Sebelum memutuskan terapi buat pasiennya, Haryanto selalu meminta catatan medis berdasarkan pemeriksaan dokter. Sebab, jika satu pasangan tidak kunjung punya momongan, bisa jadi masalahnya di salah satu dari suami istri atau bahkan keduanya. Pemeriksaan dari dokter itu berguna untuk memastikan siapa yang akan diterapi. Apakah istri atau suami saja, ataukah keduanya. Dalam kasus Retno, masalahnya terletak pada pihak istri saja. Karena itu yang diterapi pun hanya Retno. Suaminya tidak.

Terapi kekuatan pikiran
Dalam menerapi pasiennya, Haryanto menggunakan pendekatan holistik seperti yang lazim dalam pengobatan tradisional Cina. Meliputi terapi di tubuh fisik, tubuh energy, dan tubuh pikiran. Ketiganya adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Di klinik, pasien biasanya menjalani terapi ini sekitar setengah sampai satu jam.

Pertama-tama pasien menjalani stimulasi saraf, terutama saraf tulang belakang. Pasien dalam keadaan tengkurap sementara terapis “menyendoki” titik-titik saraf, mulai ujung kepala sampai ujung kaki, dengan porsi terbesar di bagian tulang belakang.

Selain menggunakan aneka sendok-sendokan, stimulasi juga dilakukan dengan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau. Bentuknya bermacam-macam, menyesuaikan peruntukannya. Ada yang ujungnya lancip, tumpul, pipih, dan sebagainya. Haryanto sengaja memilih tanduk kerbau karena sifatnya yang mudah dibentuk. Selain itu, dalam konsep NTS, tanduk kerbau juga bisa menyerap energi negatif.

Setelah melakukan “penyendokan” dan “penandukan”, terapis melanjutkan dengan terapi di tubuh energi. Terapi tahap kedua ini menggunakan energi chi atau prana. Dalam tahap ini, Haryanto akan mendeteksi tubuh pasien-pasiennya dengan menggunakan gelombang energi. Dari situ, ia bisa mengetahui daerah mana yang energinya kurang dan perlu dibersihkan.
Terapi tahap selanjutnya adalah terapi tubuh pikiran. Pada tahap ini, pasien diajak untuk rileks, tenang, dan pasrah sebisa mungkin. Bukan hanya saat diterapi di klinik, tapi juga saat berada di rumah maupun di tempat kerja. “Kalau kita cemas, maka tubuh kita pun akan kena pengaruh negatifnya,” kata Haryanto.

Kepada Retno, misalnya, Haryanto menanamkan pentingnya kekuatan pikiran. Sehari-hari Retno meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa kistanya akan hilang, bahwa ia akan hamil. Afirmasi ini terus ditanamkan di dalam pikiran. “Sampai kalau sedang santai di kantor, saya nulis ‘Kista saya hilang. Kista saya hilang. Kista saya hilang’,” tutur Retno.

Tak lupa, sebelum pulang pasien juga diajari latihan fisik ringan untuk membantu pembetulan tulang belakangnya. Latihan fisik ini harus sering-sering dilakukan di rumah atau dikantor. Pasien juga diajari tentang sikap tubuh yang benar untuk menghindari gangguan tulang belakang. Misalnya, bagaimana cara duduk, cara mengangkat beban, cara berdiri, cara tidur, dan sebagainya.

Jika pasien ingin kesembuhan yang lebih cepat lagi, ia bisa melakukan penyembuhan sendiri dengan energi chi atau prana. Latihan ini bisa dilakukan sendiri di rumah. Tapi khusus untuk urusan sendok-menyendok. Ia harus datang ke klinik sekalipun di rumah ia punya koleksi sendok lebih lengkap.
Ini memang bukan perkara koleksi sendok, tapi keterampilan menyendok!