MENGHALAU PENYAKIT DENGAN SENDOK DAN TANDUK KERBAU

Sumber: 
RINGKASAN DARI MAJALAH “NIRMALA” OKTOBER 2006

Pria yang pernah menjadi pengusaha di bidang desain interior ini sekarang serius menterapi pasien. Ia meyakini bahwa obat bukanlah satu-satunya yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Melalui Neuro Tendo Stimulasi (NTS) atau terapi sendok, ia membuktikannya.

“Tidak semua penyakit dapat disembuhkan dengan obat. Penyembuhan bisa dilakukan dengan penyaluran energi chi, melalui sentuhan atau perangsangan pada saraf-saraf untuk melancarkan sirkulasi darah,” ujar Haryanto, master kungfu, master chikung, dan terapis NTS ketika Nirmala bertandang ke rumahnya di Bekasi.

Berpegang pada keyakinannya tersebut, ia memperkenalkan satu teknik penyembuhan yang merupakan hasil perkawinan antara penyaluran energi chi dengan memberi stimulasi pada saraf-saraf, yang dikenal dengan nama terapi sendok atau NTS.
Menstimulasi saraf

Siang itu di ruang tamunya, Haryanto mengeluarkan beberapa jenis sendok dari dalam tasnya. Ada sendok makan, sendok nasi, dan sendok bebek yang sudah dimodifikasi. Dugaan kami bahwa ia sedang mempersiapkan makan siangnya ternyata meleset, karena alat-alat tersebut digunakan untuk menterapi para pasiennya.

“Sendok-sendok itu saya gunakan untuk merangsang saraf-saraf yang berada di kepala, punggung, lengan, kaki, dan leher,” katanya.
Sedangkan untuk merangsang saraf-saraf yang halus seperti yang terdapat di seputar mata, ia akan menggunakan alat seukuran pensil yang terbuat dari tanduk kerbau.

Pemakaian alat-alat yang terbuat dari aluminium dan tanduk kerbau dipercaya dapat menyerap energi-energi negatif. “Tetapi bagi saya, pemakaian alat-alat itu sebagai nilai tambah saja. Bukan merupakan suatu hal yang mutlak,” katanya. Oleh karenanya, ia sering juga menstimulasi saraf-saraf pasiennya dengan tusuk gigi atau anak kunci. “Ada atau tidak adanya alat, terapi bisa berjalan. Prinsip saya adalah tidak bergantung pada apa pun. Seandainya harus menggunakan tangan, ya tangan saja,” ujar Haryanto yang juga menguasai teknik pijat Shiatsu (teknik tekan jari dari Jepang).
Siang itu ia mengobati seorang teman saya yang lengannya sakit karena terjatuh dari motor. Untuk itu ia menggunakan sendok makan. Teman saya kelihatan sangat menikmati sensasi terapi itu. Sepuluh menit kemudian, ia tersenyum sambil berkomentar lengannya sudah nyaman kembali.

Melancarkan sirkulasi darah
Dalam pengobatan Timur, menurut Haryanto tidak dikenal istilah chi baik atau chi jelek. Kesehatan bisa dicapai apabila terjadi keseimbangan antara yin dan yang di dalam tubuh fisik maupun tubuh energi (yang tidak dapat dilihat secara kasat mata oleh orang awam) seseorang.

“Cara kerja terapi ini adalah memperbaiki dan mengoptimalkan sistem saraf di sepanjang tulang belakang dan tendon atau otot dan urat. Terapi ini akan memperlancar peredaran darah, serta memperbaiki organ tubuh sehingga kualitas kesehatan dapat ditingkatkan,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan dengan sederhana, mengibaratkan orang yang sakit dengan selang air yang tersumbat. “Dalam kondisi demikian, otomatis aliran air yang keluar akan tersendat. Tetapi apabila selang air tersebut diperbaiki, maka aliran air akan lancar kembali,” ujarnya.

Ibarat menyisir sisik ikan
Pria berusia 53 tahun itu selalu serius wajahnya apabila sedang memberi terapi pasien. Ia tidak banyak berkata-kata. Justru yang ‘berisik’ adalah jari-jarinya. Jari tangan kiri, misalnya, menyisir saraf dan urat dengan gerakan seperti orang yang sedang membersihkan sisik ikan. Jika didengarkan, bunyinya “…sret…sret…sret..sret…”. sementara jari tangan kanannya menstimulasi, dan mengembalikan posisi urat dan saraf ke tempatnya semula. Apabila diamati gerakan kedua tangannya itu seperti menarik dan mendorong.

Dalam memberi terapi, ia akan meminta pasiennya untuk tidur dengan posisi terlentang. Kemudian ia akan mendeteksi energi penyakit dengan telapak tangannya. Setelah itu, pasien diminta untuk telungkup. Dengan posisi demikian, Haryanto akan menstimulasi saraf-saraf pasiennya dengan peralatan tersebut. Langkah terakhir yakni pemberian energi chi. “Pemberian energi chi itu untuk melancarkan energi di tempat-tempat yang bermasalah dan meridian-meridian tubuh, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan,” ujarnya.

Pelaku vegetarian lacto-ovo
Sabar, tenang, penuh welas asih, tergambar di raut wajah Haryanto yang oval. Postur tubuhnya yang ideal (tinggi 170 cm, berat 69 kg) selalu dibalut pakaian yang rapi dan bersih. Saat bercengkerama bersama keluarga maupun pada waktu menghadapi pasien, wajahnya selalu mencerminkan kesegaran.

Sebagai penghusada, tampil segar dan sehat agaknya sudah menjadi keseharian Haryanto. Boleh jadi kesegarannya itu karena ia banyak makan sayur dan buah. Ia menjadi pelaku lacto-ovo vegetarian (tidak makan daging, tetapi masih makan telur, susu, dan olahannya, Red.)

“Menjadi vegetarian untuk menumbuhkan rasa welas asih kepada sesama mahluk Tuhan,” ujarnya. “Setelah menjadi vegetarian dan sering meneguk air putih, saya merasa tubuh lebih nyaman, dan jarang sakit,” timpalnya.

Selain itu, ia selalu menciptkan suasana yang nyaman, baik di rumah maupun di klinik bersama asistennya. “Bagi saya sangat penting menjalani hidup dengan gembira, bekerja dengan tenang, sehingga akan timbul kecerahan pikiran,” ujarnya.

Rutin meditasi, melatih kesabaran
Selain mengatur pola makan, ia juga rutin melakukan meditasi pada pagi hari. “Meditasi sangat baik untuk melatih kesabaran kita,” kata Haryanto yang mempunyai tempat meditasi khusus di lantai dua rumahnya. Ketekunannya bermeditasi serta kedisiplinannya berlatih chikung dan kungfu agaknya juga menjadi pengokoh fondasi kesehatannya.

Berpenampilan sehat dan segar seperti itu, menjadi nilai tambah tersendiri bagi Haryanto. Beberapa waktu lalu ia tampil menjadi bintang iklan Biotherapy-Lantern (lampu bioterapi). Dalam potongan iklan tersebut, ia tampil segar berlatar belakang Kebun Raya Bali sambil menjelaskan pentingnya berlatih chikung untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Ia kemudian memperagakan beberapa gerakan chikung yang lembut dan indah.

Guru kungu Perguruan Ular Mas
Merambahnya Haryanto ke dunia penyembuhan, berawal pada tahun 1976 ketika ia menjadi guru kungfu di beberapa kota di Jawa Tengah. “Ketika mengajarkan teknik-teknik kungfu memukul lawan, saya sering mendapati murid-murid yang terkilir atau sakit akibat terpukul. Setelah latihan selesai, saya memijat mereka sampai mereka pulih kembali,” tuturnya.

Kesembuhan murid-muridnya itulah yang membuat nama Haryanto kemudian dikenal sebagai terapis.
Tahun 1982, melalui seorang guru, ia mempelajari teknik memijat dengan menggunakan peralatan sederhana seperti ranting pohon dan batu. Dari situ ia mengembangkan sendiri teknik-teknik stimulasi saraf dengan alat bantu.
“Dengan memodifikasi alat-alat stimulasi tersebut, bukan hanya pasien yang terkilir atau keseleo kakinya yang bisa saya terapi, melainkan juga mereka yang sering mengeluh sakit kepala seperti migren, vertigo, serta pasien yang bermasalah karena dislokasi tulang belakang seperti saraf terjepit (HNP) dll,” ujar pria yang kini praktik di Cempaka Putih itu.

Menjalani misi kemanusiaan
Sifat welas asih Haryanto yang juga salah seorang pengurus APALI (Asosiasi Penyembuh Alternatif Indonesia) tidak bisa dibendung, ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta, 27 Mei 2006. Kendati pada hari yang sama ia sudah mengantongi tiket ke negeri jiran Malaysia untuk menghadiri pertemuan para pengobat alternatif di sana, demi menjalankan misi kemanusiaan, ia malah mengemudikan mobilnya ke Yogyakarta.
Berbekal peralatan sederhana dan dibantu oleh asisten dan para murid kungfunya di Yogyakarta, ia membantu para korban gempa. “Pos kesehatan kami banyak dikunjungi oleh korban gempa yang minta diberi terapi pada bagian-bagian tubuh yang tidak dapat diberi terapi oleh pengobatan medis,” katanya.

Dalam sehari, ia dan rekan-rekannya mengobati 60-70 pasien. “Kami melihat, mereka agaknya mendambakan penyembuhan seperti yang kami terapkan karena selain tidak memakai obat, terapi ini langsung dapat meringankan rasa sakit mereka,” sambungnya.
Saling mengisi

Menurut pengamatan Haryanto, korban gempa biasanya mempunyai masalah pada kaki, tangan, atau tubuhnya karena tertimpa benda keras. “Apabila mereka hanya diberi obat saja, penyembuhannya memerlukan waktu yang cukup lama. Tetapi setelah diberi terapi, dilancarkan energinya, penyakit mereka bisa diringankan. Bahkan beberapa orang bisa langsung melakukan aktivitas kesehariannya kembali. Ini membuktikan bahwa obat bukanlah satu-satunya media penyembuh,” lanjutnya.
Tidak semua korban bisa datang ke Pos Penyembuhan Alternatif Terapi Sendok (NTS) itu. Salah seorang ibu, karena ketidakberdayaannya, terpaksa harus didatangi ke tempat pengungsiannya.

“Hati saya trenyuh begitu melihat tenda ibu itu yang terletak di tepi jalan. Tempat tidurnya selembar daun pintu beralaskan tikar,” katanya. Setelah diterapi, ibu yang semula tidak bisa duduk dan berdiri itu langsung bisa berjalan. Ketika ditanya apakah sudah membaik, si ibu langsung menjawab, “Sampun sekeco” (sudah lebih nyaman). “Saya benar-benar bahagia,” tutur Haryanto sambil mengelus dadanya.

Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa sebenarnya antara pengobat medis dan komplementer, harus saling mengisi.
“Para korban gempa di Yogya dan Bantul mengatakan bahwa mereka begitu mengharapkan ‘dokter-dokter’ tanpa obat seperti kami. Saya pikir, sudah saatnya pengobat medis merangkul para pengobat komplementer dalam menangani korban bencana alam,” ujar Haryanto yang sudah dua kali membantu korban gempa di Yogya dan Bantul serta menterapi korban Tsunami di Pangandaran.

Mengumpulkan barang antik
Kami kembali ke ruang tamu sambil menanyakan asal-usul alat-alat stimulasi yang jenisnya cukup banyak itu. Haryanto tersenyum. “Sendok-sendok ini saya cari di pasar tradisional. Sering penjualnya atau pembeli lain bingung melihat saya menggosok-menggosok wajah atau leher dengan sendok nasi ini. Mereka tidak mengerti yang sedang saya perbuat,” katanya.

Sedangkan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau diburunya di Pasar Beringharjo Yogyakarta. “Tetapi setelah dibeli, saya bakar dan saya bentuk terlebih dahulu. Lalu saya coba lagi untuk menstimulasi saraf-saraf. Apabila sasarannya belum tepat, saya bentuk lagi sampai benar-benar sesuai dengan keinginan saya,” tuturnya.

Melihat begitu banyak orang yang terbantu melalui terapi sendok ini, ada beberapa peneliti di antaranya yang bergelar Profesor Dokter yang menghubungi Haryanto dan menyatakan bersedia melakukan penelitian terhadap terapi ini. Tentu saja ia gembira. “Harapan saya dengan terapi yang sederhana ini, pasien cepat mendapat kesembuhan,” ujarnya. Hidup sendok! (N)