Kretek… kretek……,TERAPI SENDOK SAYUR

Sumber: 
Ringkasan dari majalah Intisari maret 2004
Penulis: 
A. Bimo Wijoseno

Segala penyakit ada obatnya. Begitu kata pepatah. Namun, obat itu tak melulu berupa pil atau kapsul. Bisa pula dalam bentuk lain, seperti pijatan, tusukan jarum akupuntur atau bahkan berupa olah napas. Yang berupa pijatan pun ada bermacam-macam caranya. Ada yang menggunakan alat bantu, ada pula yang mengandalkan kekuatan tangan.

Salah satunya bentuk pijat dengan alat yang saat ini sedang menyita perhatian banyak orang, yaitu pijat urat saraf atau yang disebut neurotendo stimulasi. Kabarnya, beragam penyakit seperti migrain, vertigo, insomnia, nyeri pinggang, stroke, jantung, hingga “saraf terjepit” dapat diatasi dengan terapi ini.

Dalam neurotendo stimulasi ini, saraf yang berada di tulang belakang secara khusus mendapat perhatian. Sebab, seluruh saraf yang menghubungkan setiap organ di dalam tubuh berkumpul di tulang belakang. Jika organ tertentu mengalami gangguan, lantas titik sarafnya distimulasi, organ itu menjadi terangsang untuk mengalami perubahan. Ketika susunan saraf luar yang ada di punggung distimulasi atau dipijat, organ yang berada di dalam tubuh akan merasakan adanya suatu sensasi. Gangguannya pun berangsur hilang, yang ditandai dengan berfungsinya kembali organ tersebut secara maksimal.

Pada praktiknya, selain menstimulasi, Haryanto juga menyalurkan energi chi seperti yang dipelajari dalam ilmu kungfu. Fungsi penyaluran chi ke pasien ini untuk mempercepat proses penyembuhan. “Bagi orang sehat, chi-nya seimbang dan utuh. Sebaliknya, mereka yang mengalami gangguan atau penyakit, chi-nya tampak tidak seimbang atau tidak utuh mengelilingi tubuh. Saya menyalurkan energi chi untuk menyeimbangkannya,” jelas Haryanto.

Sebelum menggunakan alat bantu, dulu Haryanto menstimulasi pasien hanya dengan jemari. Alat bantu mulai dipergunakannya setelah bertemu dengan seorang guru kungfu dari Cina pada tahun 1980. Alat bantu yang digunakan ketika ia belajar ilmu pengobatan memijat titik-titik urat saraf dari gurunya berupa sepotong ranting atau batu. Ujung ranting atau batu itu diputar-putar dan ditekan pada titik saraf. Tekanannya tidak terlalu keras, bahkan terkesan seperti main-main, tetapi cukup terasa hasilnya.

Teknik ini lantas “disadap” dan dikembangkan oleh  Haryanto. Kini, dalam memijat digunakan alat pijat buatan Haryanto yang terbuat dari tanduk kerbau dan alumunium. Bentuknya beragam sesuai kebutuhan dan titik saraf mana yang hendak dicapai.

Uniknya, alat pijatnya sekilas tampak mirip pencukil ban milik tukang tambal ban pinggir jalan. Bahkan, ada juga yang mirip peralatan dapur seperti sendok sayur dan sendok bebek yang dikombinasi dengan sendok sayur.

Penggunaan bahan dari tanduk kerbau dan alumunium bukan tanpa alasan. Menurut Haryanto, tanduk kerbau mudah dibentuk, awet dan dipercaya  mampu memperbaiki chi dan sekalian menetralisir energi negatif. Alumunium pun mempunyai sifat tidak jauh beda dengan tanduk kerbau.

Stimulasi, jelas Haryanto, hanya efektif bila memakai alat bantu itu. Mengandalkan jari-jemari dirasanya kurang mencukupi. “Tendon atau saraf terletak tersembunyi dan halus, sehingga tidak terlihat oleh mata. Biasanya berada pada lapis ketiga atau keempat di bawah kulit. kalau hanya dipijat dengan tangan, tak akan terasa dan tidak terjangkau,” terang Haryanto.

Titik-titik saraf yang distimulasi pun bukan sembarang titik. Neurotendo stimulasi memakai pola sistem seni pijat urat Cina kuno, An-mo. Bahkan kini Haryanto memadukannya dengan pola titik meridian di tusuk jarum atau akupuntur. “Supaya lebih menyeluruh,” ungkap pria muda yang gemar belajar ilmu kungfu ini.

Berbeda dengan pijat-memijat biasa yang sering disertai dengan pengolesan minyak atau krim di kulit pasien, maka pada neurotendo stimulasi minyak tidak digunakan sedikit pun. Jika memakai minyak atau krim, urat saraf pasien justru akan sulit diraih karena licin. Tak heran, ujung alat yang digunakan dibuat agak kasar agar mudah untuk meraih saraf.

Meski tanpa minyak, saat dilakukan pemijatan, pasien dijamin tidak merasakan kesakitan – bahkan keenakan. Saraf tegang atau kaku, ketika diurut terkadang menimbulkan bunyi “kretek … kretek ….”

Uniknya, rasa sakit terkadang bisa muncul di bagian tubuh lain. Misalnya, ketika ujung mata dipijat, rasa sakit muncul di bagian dalam mata. “Memang, sistem saraf tubuh manusia saling berhubungan. Di sini dipijat, rasa sakit terjadi di tempat lain,” ujar Haryanto.