DENGAN PIJAT SARAF MIGRAIN MINGGAT

Sumber: 
ARTIKEL MAJALAH “SERU!” EDISI:32/II/10-23 DES 2003
Penulis: 
Bimo Wijoseno

Anda menderita migrain (sakit di sebelah kepala), vertigo (sakit kepala kelas berat), insomnia (sulit tidur), nyeri pinggang, stroke dan sejenisnya? Haryanto (50) punya terapinya. Dia menyebut terapinya dengan istilah neurotendo stimulasi. Istilah gagah ini ini gampangnya bisa diterjemahkan sebagai pijat urat atau pijat saraf.

Menurut Haryanto, macam-macam keluhan penyakit acap disebabkan oleh kelelahan pikiran dan ketegangan otot dalam menghadapi tugas sehari-hari. Ketegangan sistem saraf dan tendon yang berlarut-larut pada ujungnya bakal mengakibatkan ikut lelahnya organ dalam tubuh. Contoh mudahnya, orang yang berjam-jam bekerja di depan komputer, matanya akan penat. Otot dan saraf di sekitar mata biasanya kaku dan fungsi penglihatan bisa kurang maksimal. Ketegangan itulah yang perlu diredakan lewat pijatan.
Sejak muda, Haryanto mengaku gemar belajar ilmu bela diri kungfu. Dalam dunia kungfu, katanya, kecelakaan macam terkilir atau keseleo biasa terjadi. Nah, dalam kungfu umumnya diberikan juga pelajaran tentang pengobatan. Jika ada yang cedera dalam latihan, pengobatan bisa diberikan sendiri hingga tidak perlu tergopoh-gopoh ke rumah sakit.

Energi Chi
Semula, dia memang tak pernah berpikir untuk jadi juru penyembuh. Dia sempat bekerja di dunia desain interior. Dunia desain interior ternyata bukan profesi yang membuatnya bahagia. Ini terjadi setelah dia bertemu dengan seorang guru kungfu dari Cina pada 1980. Dari pengembara inilah dia belajar ilmu pengobatan.

Dalam praktik pengobatannya, sang guru kungfu menggunakan teknik pijatan. Uniknya, pijatan tak dilakukan dengan tangan, tapi dengan alat bantu berupa sepotong ranting atau sebuah batu. Teknik inilah yang kemudian dikembangkan Haryanto. Dalam pijatan, dia memakai alat pijat yang terbuat dari tanduk kerbau dan alumunium. “Rasanya hati ini lebih berbahagia karena bisa membantu orang,” katanya.

Pijatannya, kata Haryanto, memang hanya efektif jika memakai alat bantu itu. Jari-jari tak cukup. Karena itu, pijatannya berbeda dengan pijat refleksi atau akupresur. “Tendon atau urat saraf letaknya tersembunyi dan halus, tidak terlihat oleh mata. Biasanya berada pada lapis ketiga atau keempat di bawah kulit. Kalau hanya dipijat dengan tangan tidak terasa dan tidak terjangkau,” terang Haryanto.

Tanpa olesan minyak atau krim tertentu, Haryanto melakukan pijatan di daerah yang dikeluhkan sakit oleh pasien. Dijamin, pijatannya tidak menyakiti. Malah, keenakan. Saraf yang tegang atau kaku, ketika diurut, kadang bisa menimbulkan bunyi kretek….. kretek… Rasa sakit malah bisa muncul di lokasi lain. Ketika ujung mata dipijat, rasa sakitnya malah berada di bagian dalam mata.
“Memang, sistem saraf tubuh kita ini saling berhubungan. Di sini dipijat, rasa sakit terjadi di tempat lain,” ujarnya.

“Sebelum pijatan dilakukan, dalam prakteknya Haryanto melihat dulu ‘chi’ atau aura calon pasiennya. Pemantauan chi ini dilakukannya dengan menyapukan telapak tangan pada badan pasien tanpa menyentuhnya. Dari sapuan inilah dia akan mengetahui organ mana yang terkena gangguan. “Tubuh yang sehat aura atau chinya akan utuh mengelilingi,” jelasnya.
Jika sistem energi dalam tubuh itu ditemukannya tak seimbang, Haryanto akan melakukan penyaluran chi. Pasien diberi saluran energi. Usai penyaluran chi, baru dilakukan pijat urat. Yang digarap hampir seluruh tubuh dari kepala, wajah, leher, badan, hingga ke kaki.

Saraf kejepit
Dari aneka macam penyakit yang pernah ditangani, dari migrain, vertigo, insomnia, hingga stroke, saraf kejepit di tulang belakang merupakan kasus yang paling berat dan menyulitkan. Dalam banyak kasus, apa yang oleh awam disebut saraf kejepit bisa bikin orang kelimpungan. Tangan atau kaki terasa nyeri dan sulit digerakkan. Bahkan, dalam tingkat berat bisa berakibat pada kelumpuhan – terlebih jika tak segera ditangani.

Beberapa waktu lalu, cerita Haryanto, seorang pasien dengan keluhan saraf tulang belakang terjepit ini ditanganinya. “Dokter sudah menvonis harus dioperasi. Tetapi setelah saya terapi tiga kali, berangsur-angsur sembuh dan terjadi perubahan yang lebih baik. Karena perubahan ini, akhirnya diputuskan tidak perlu dilakukan operasi,” tutur Haryanto.

Gangguan jantung, juga tak ditolak oleh Haryanto. Untuk kasus penyakit dalam ini, tentu saja bukan jantungnya yang diterapi. Yang diterapi, katanya, jalan darah menuju jantung. Gangguan itu terjadi, karena jalan darah tersebut tersumbat. Dia juga melakukan stimulasi prana. Gampangnya, ke jantung pasien disalurkan energi prana,” jelas Haryanto.

Dalam kasus-kasus tertentu, terkadang pijatan pada organ yang sakit tak bisa dilakukan. Misalnya, kaki kanan pasien bengkak, maka pijatan justru diberikan pada kaki kiri. Menurutnya, sistem saraf di kaki kiri dan kanan saling berhubungan. Pijatan pada saraf di kaki kiri tetap akan punya dampak pada saraf di kaki kanan. Karena itu, bengkak di kaki kanan pun bisa tersembuhkan.

Haryanto punya tips agar tubuh tetap sehat rohani dan jasmani. Yang klasik, ya olahraga fisik, ditambah dengan meditasi. Hidup, katanya, sebaiknya dijalani dengan gembira. Perasaan gembira akan membantu kerja urat-saraf. Kemarahan justru sebaliknya. Nafsu amarah bakal membuang banyak energi ekstra, plus mengganggu susunan saraf. Dampaknya, kata Haryanto, otot yang tegang sekurangnya menghasilkan sakit kepala.