ATASI URAT TERJEPIT DENGAN NEUROTENDO

Sumber: 
Ringkasan dari tabloid senior tahun 2003

Mendiagnosis dengan prana, lalu menerapi pasien menggunakan teknik neurotendo stimulasi. Begitu Haryanto menangani pasiennya. Ia mengaku sebagai ahli penyakit yang berhubungan dengan saraf dan otot, seperti urat saraf terjepit, migrain, vertigo, gangguan di daerah mata, atau susah tidur.

Penyembuhan dengan teknik urut kini semakin banyak digeluti orang. Hanya saja, umumnya orang melakukan pengurutan, baik dengan alat maupun tangan, tanpa disertai penyaluran hawa murni, misalnya chi atau prana. Itulah yang diyakini Haryanto.
Bagi Haryanto, ia selalu mengkombinasikan pengurutan dan penyaluran tenaga murni setiap kali menangani pasiennya. Teknik penyembuhannya sendiri ia namakan neurotendo stimulasi. Mengapa demikian, karena ia lebih memfokuskan untuk menyembuhkan orang yang bermasalah saraf maupun ototnya.

Diagnosis Prana
Biasanya pasien yang ditanganinya datang sudah dengan keluhan. Meski demikian, ia tidak menolak mereka yang datang tanpa keluhan. “Saat pasien datang, saya langsung mendiagnosis untuk melihat seberapa parah keadaannya. Tanpa sadar, pasien juga saya periksa dengan tenaga prana,” ujar Haryanto.

Selanjutnya, ia akan menerapi fisik pasien dengan menyalurkan chi, pijat refleksi, atau menggunakan alat bantu. Alat bantunya terbuat dari tanduk kerbau dan besi. Salah satunya berbentuk sendok bebek. Alat itulah yang digunakan untuk mengurut otot maupun saraf pasien.
“Alat yang saya pakai ada yang terbuat dari tanduk dan besi. Kalau tanduk, karena tanduk kerbau mudah dibentuk. Penambahan alat besi ini untuk memudahkan saya mengambil urat saraf yang paling dalam. Besar-kecilnya alat tergantung pada penyakit yang dialami pasien,” ujarnya.

Sebut saja, salah satu pasiennya diterapi karena mengalami urat terjepit di bagian lutut. Pertama-tama Haryanto mendeteksi keadaan tubuh pasien itu dengan melihat auranya. Dirinya merasakan suatu “sensasi” saat menemukan sumber penyakit. Selain dengan cara itu, ia juga menanyakan langsung bagian yang sakit. Bila pendeteksian selesai, ia langsung memperbaiki aura tubuh pasien dengan tenaga chi atau prana.

Setelah memperbaiki aura tubuh pasien, biasanya ia akan kembali mendeteksi. Seandainya ia merasa pasiennya sudah normal atau stabil, penyembuhan tidak hanya sampai di situ saja. Namun, ia mengingatkan, cara itu baru untuk bagian tubuh energi, sedangkan secara fisik belum diperbaiki. Untuk memperbaiki fisiknya, ia akan melakukan stimulasi saraf dan otot pasien.

Stimulasi Saraf dan Otot
Stimulasi dilakukan tergantung pada keadaan pasien. Bila harus menggunakan titik akupuntur, Haryanto akan mengurut dengan pola tersebut sekaligus memberi hawa murni.

Terapinya menggunakan alat untuk merapikan saraf atau otot yang mengalami kesalahan. Tangan kanan sambil memegang alat menggaruk tubuh pasien, sedangkan tangan kiri ikut mengusap ke arah bawah dan atas. Ini dilakukan terus hingga otot maupun saraf pasien kembali normal. Waktu rata-rata menstimulasi pasiennya adalah 30 menit.
Pasien dianjurkan untuk kembali setelah tiga hari. Setelah tiga hari, menurut Haryanto, otot tubuh akan kembali pada posisi semula. Pada saat pemeriksaan kedua, ia bisa melihat otot atau saraf yang masih menyimpang. Bila masih ada penyimpangan, ia akan membetulkan kembali.
Penyimpangannya sendiri bisa dilihat Haryanto dengan rabaan maupun prana. Selanjutnya, bila tak ada keluhan lanjutan, pasien tidak perlu datang lagi untuk kontrol.

“Bagi pasien yang mengalami vertigo, migrain, gangguan daerah mata, dan ketergantungan obat, caranya sama dengan kasus pada lutut. Dalam dua kali pertemuan, pasien sudah akan merasakan perubahan mendasar,” ungkapnya.